dosenmuda

LAPORAN PENELITIAN

KAJIAN INSEKTISIDA HAYATI TERHADAP DAYA BUNUH

ULAT Plutella xylostella dan Crocidolomia binotalis PADA

TANAMAN KOBIS KROP

Oleh :

Ir. Sartono Joko Santosa , MP.

Dra. Sumarmi , MP.

————————————————————————————————————

Dibiayai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan
Nasional sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Hibah Penelitian Nomer :
006/SP2H/PP/DP2M/III/2007, tanggal 29 Maret 2007

Kajian Insektisida Hayati terhadap Daya Bunuh Ulat Plutella xylostella dan
Crocidolomia binotalis pada tanaman kubis Krop

Study toThe Botanical Inseticide towards Kill Power Plutella xylostella and
Crocidolomia binotalis of Cabbage crop

Sartono Joko Santosa , Sumarmi

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai Oktober 2007 di desa Matesih, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, dengan ketinggian tempat 500 meter di atas permukaan laut. Tujuan penelitian untuk mengkaji pengaruh dua macam insektisida hayati, yaitu ekstrak biji mimba dan biji lada terhadap daya bunuh ulat P. xylostella dan C,binotalis pada tanaman kobis krop.Metode Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 7 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu : Kontrol, Ekstrak biji Mimba kosentrasi 1%, 2%, 3% dan ekstrak biji lada 1%, 2%, 3%. Dianalisis dengan Sidik Ragam dan Uji Jarak Berganda Duncan 5% . Pemberian ekstrak biji mimba 2% dan ekstrak biji lada 2% memberikan daya bunuh terbaik terhadap larva P. xylostella dan C. binotalis , tingkat kerusakan terendah terjadi pada pemberian ekstrak biji mimba 3% dan ekstrak biji lada 3%, berat segar krop tertinggi terjadi pada pemberian ekstrak biji lada 3%

ABSTRACT

A research carried out from July to October 2007 in Matesih village, Matesih district, Karanganyar regency at the elevation of 500 meters above sea levels. The aim of the research to study the effect of two kinds exstract of mimba seed and pipper seed to kill power P. xylostella and C. binotalis of cabbage crop. The research method used Randomized Completely Block Design (RCBD) with 7 treatmens and 3 replications, are : control, extract mimba seed 1%, 2%, 3% and extract piper seed 1%, 2%, 3% concentration. The data were analysed using an Analysis of Variance and Duncans Multiple Range Test 5%. The treatment of extract mimba seed 2% and extract pipper seed 2% showed that best kill power to P. xylostella and C. binotalis, the lowest damage intencity caused of extract mimba seed 3% and extract pipper seed 3%, The higgest weight of cabbage crop caused of extrct pipper seed 3 %,

I. PENDAHULUAN

Hasil pertanian sering mengandung residu pupuk kimia maupun residu pestisida yang berbahaya bagi kesehatan. Sejak awal penanaman, selama pertumbuhan, menjelang panen, bahkan setelah panen, tanaman seringkali diberi bahan kimia untuk melindungi hasil pertanian dengan tujuan produktivitas tinggi.
Penggunaan berbagai bahan kimia tersebut sebenarnya sudah sampai pada tahap mengkhawatirkan dan membahayakan lingkungan. Saat ini semakin banyak orang ingin kembali ke petanian organik, tidak hanya menggunakan pupuk organik saja tetapi juga pestisida organik atau yang dibuat dari bahan tumbuhan yang dikenal dengan pestisida hayati yang ramah lingkungan.
Tanaman pertanian sejak awal pertumbuhan sering diserang hama dan penyebab penyakit yang merugikan. Tananam kubis krop sering diserang hama ulat Plutela xylostella dan Crocidolomia binotalis yang dapat berakibat gagal panen. Serangan hama ulat tersebut pada musim kemarau dapat mencapai 100 % (Cahyono, 1995).
P. xylostella dikenal sebagai ulat tritip yang menyerang baik pada tanaman muda maupun tanaman dewasa. Siklus hidup hama ini tergolong sempurna yaitu telur – larva – pupa – kupu-kupu. Hama ini tidak hanya menyerang kubis tetapi juga lobak dan tanaman lainnya (Rukmana, 1998). C. binotalis adalah nama lain dari ulat kubis krop. Hama ini juga menyerang tanaman sawi, petsai, lobak dan tanaman lainnya. Hama ini juga mengalami siklus hidup yang sempurna. Larva atau ulatnya berwarna hijau dan punggungnya tampak garis-garis hijau muda, dibagian bawah terdapat rambut-rambut hitam. Panjang ulat ini mencapai 18 mm, dapat bergerak ke seluruh tanaman. Hama ini terutama menyerang titik tumbuh, sehingga tanman muda tidak dapat membentuk tunas baru dan menyebabkan matinya tanaman (Pracaya, 1997).
Cara pengendalian hama yang banyak dilakukan menggunakan insektisida kimiawi sintetik karena pada awalnya sangat efektif dalam menekan populasi hama, dianggap mudah pelaksanaanya, sehingga penggunaaanya semakin meningkat. Penggunaan insektisida yang tidak tepat waktu, dosis dan interval penyemprotannya dapat menimbulkan masalah baru yaitu munculnya ketahanan atau resistensi hama, timbulnya resurjensi hama, ledakan hama kedua dan pencemaran lingkungan.
Penggunaan insektisida sintetik tidak dapat dihentikan secara drastis karena dapat berakibat menurunnya produk pertanian. Salah satu alternatif yang paling tepat dalam pengendalian hama adalah penggunaan insektisida hayati yang ramah lingkungan. Insektisida hayati dapat dibuat dari bahan tumbuhan yang mengandung bahan aktif insektisida (Kardiman, 2002).
Insektisida hayati relatif mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan aman bagi manusia dan ternak, karena residunya mudah hilang. Bahan aktif insektisida hayati mampu meracuni hama hingga 2- 3 hari, tergantung kondisi lapangan dan keadaan cuaca (Taruningkeng, 1992).
Prosedur untuk mendapatkan ramuan insektisida hayati menurut Kardiman dan Rukmana (2003) ada 3 cara yaitu :
– Penggunaan langsung bagian tanaman , misalnya daun baik secara langsung maupun ditepungkan lebih dahulu
– Cara sederhana, biji dibuat serbuk lalu direndam dengan air selama semalam, sebelum dibuat serbuk biji dikeringkan lebih dahulu
– Cara laboratorium, dilakukan dengan bantuan produk yang dihasilkan berupa dedak dan pasta
Pembuatan insektisida hayati dari bahan tumbuhan dapat diambil dari ekstrak biji mimba dan ekstrak biji lada. Alasan diterapkannya insektisida tersebut pada tanaman kobis karena kebutuhan masyarakat akan tanaman tersebut tinggi, namun sering ada kendala dalam budidaya karena serangan hama ulat. Penggunaan pestisida selama ini merupakan masalah yang dilematis. Pestisida non organik selalu menimbulkan efek negatif terhadap lingkungan. Penggunaannya secara terus menerus dapat menimbulkan resistensi karena timbulnya strain hama yang lebih tahan terhadap pestisida tersebut. Penggunaan insektisida dari ekstrak tumbuhan bersifat aman bagi manusia dan ternak, selain itu residunya mudah hilang. Biji mimba dipilih sebagai bahan dasar pembuatan insektisida non hayati karena sangat pahit atau beracun .Sedang biji lada dipilih karena rasa pedas dan panas yang ditimbulkan. Dua jenis ekstark biji ini diharapkan efektif dan mempunyai daya bunuh terhadap dua jenis ulat yang sering merusak tanaman kubis krop yaitu Plutella xylostella dan Crocidolomia binotalis.
Mimba (Azadiractha indica) termasuk anggota familia Meliaceae. Daun mimba dikenal masyarakat berkhasiat sebagai tanaman obat yang rasanya pahit. Daun mimba dibua untuk membuat ramuan obat tradisionil untuk penyakit diabetes, lever dan menunjang kesehatan secara umum. Biji mimba juga sangat pahit dan mengandung bahan aktif untuk pestisida hayati. Bahan aktif tersebut berupa senyawa yang bersifat racun bagi hama tanaman. Kadar zat aktif yang terkandung dalam biji mimba sekitar 0.1 – 0,5 % dari berat biji kering mimba (Sukrasno, 2003). Setiap 10 Kg biji mimba dapat menghasilkan insektisida hayati dengan konsentrai 30 – 50 gram Azadirachta/ha atau setiap gram biji mimba dapat menghasilkan 1- 7 ml Azadirachta (Rukmana dan Oesman, 2002). Menurut Sukrasno (2003) dalam 500 gram biji mimba yang dilarutkan atau diencerkan dengan air hingga 10 liter, kandungan Azadirachta nya mencapai100 ppm. Pengenceran hingga 20 liter menyebabkan kandungan Azadirachta nya hanya 50 ppm.
Lada (Piper nigrum) dapat digunakan sebagai insektisida hayati dengan menumbuk atau menghancurkannya sehingga menjadi bentuk serbuk halus. Kandungan bahan aktif biji lada antara lain alkaloid, methylpyrolline, piperovaline, chavicine, piperidine. Biji lada dapat berfungsi sebagai insektisida, fungisida, nematisida. Ekstrak dan bubuk biji lada toksik terhadap beberapa jenis serangga hama (Kardiman, 2002). Daya meracuni biji lada ditentukan oleh bahan aktif yang diekstraksi dengan etanol, menjadi racun kontak pada C. binotalis. Hasil penelitian Djoni (1997) menunjukkan bahwa biji lada konsentrasi 2 % dengan interval waktu 3 hari dapat mengurangi serangan C. binotalis sebesar 33 %.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A.Tanaman Kubis

Kubis (Brasssica oleracea L.) merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura yang berperan sebagai sumber vitamin, mineral, protein, karbohidrat yang dibutuhkan oleh manusia, juga mengandung zat-zat lain yang diperlukan untuk pembentukan jaringan tubuh manusia dan meningkatkan energi untuk meningkatkan aktivitas otot-otot sehingga manusia dapat bergerak dan berpikir (Cahyono, 1995).
Menurut Rukmana (1994) sistimatika tanaman kobis berdasarkan klasifikasinya adalah : Divisio : Spermatophyta
Sub divisio : Angiospermae
Klass : Dicotyledonae
Ordo : Papavorales
Famili : Cruciferae (Brassicaceae)
Genus : Brassica
Spesies : Brassica oleraceae L. Var. Capitata L.
Batang tanaman kubis umumnya pendek dan banyak mengandung air dan disekeliling batang hingga titik tumbuh terdapat helai daun yang bertangkai pendek. Daunnya berbentuk bulat telur sampai lonjong dan lebar, berwarna hijau, saling menutupi satu sama lain dan membentuk krop (Rukmana, 1994).
Di daerah sub tropisyang udaranya dingin, bunga akan keluar dari ketiak daun. Bunga terdiri dari 4 helai daun kelopak berwarna hijau, 4 helai daun mahkota bnerwarna kuning muda, 4 helai benangsari bertangkai panjang, 2 helai benang sari bertangkai pendek dan 1 buah putik yang beruang dua. Buah berbentuk polong, panjang dan ramping berisi biji. Biji berbentuk bulat kecil berwarna coklat sampai kehitam-hitaman (Rukmana, 1994).
Kubis dapat diperbanyak dengan biji atau stek. Biji atau stek dapat ditanam langsung di lapaangan atau disemai terlebih dahulu ditempat persemaian, setelah cukup besar dapat dipindah ke lapangan (Cahyono, 1995).
Tanaman kubis dapat tumbuh pada semua jenis tanah, mulai tanah pasir sampai tanah berat. Tetapi yang paling baik adalah tanah yang gembur, banyak mengandung humus dengan pH antara 6-7. Jenis tanah yang paling baik adalah lempung berpasir (Rukmana, 1994).
Kubis menghendaki cukup air akan tetapi tidak menghendaki adanya hujan lebat yang terus-menerus. Curah hujan yang baik antara 100-1500 mm/th dengan kelembaban optimal antara 60-100% (Sunarjono, 1980). Penanaman kubis pada musim hujan lebih menguntungkan karena adanya air yang cukup mengingat tanaman ini memerlukan air cukup banyak uantuk pertumbuhannya. Untuk kubis muda membutuhkan 300 cc air/hari, sedangkan setelah dewasa memerlukan 400-500 cc/hari.
Produksi hasil-hasil pertanian mengalami kereugian yang sangat besar akibat serangan serangga pada tanaman budidaya. Hal ini disebabkan adanya kemampuan adaptasi dan daya persaingan yang tinggi yang dimiliki oleh serangga. Salah satu masalah yang dihadapi dalam budidaya tanaman kubis yakni adanya serangan hama. Kehilangan hasil tanaman kubis akibat serangan hama P. xylostella dan C. binotalis dapat mencapai 100% (Rukmana, 1994).

B. Hama P. xylostella dan C. binotalis

P. xylostella dikenal sebagai ulat tritip yang menyerang baik pada tanaman muda maupun tanaman dewasa. Hama ini tidak hanya menyerang kubis tetapi juga lobak dan sayuran lainnya.Pada umumnya serangan ulat ini terjadi secara eksplosif pada musim kemarau, sehingga kerugian yang ditimbulkan dapat mencapai 100 %.Larva memakan daun kubis dengan jalan membuat lubang pada permukaan bawah daun. Kemudian larva membuat liang-liang korok hingga ke daun dan jaringan daun pada permukaan bawah. Bila populasi tinggi, hampir seluruh daun dimakan larva dan hanya meninggalkan tulang-tulang daun.
Siklus hidup hama ini tergolong sempurna yaitu dari telur- larva- kepompong- dewasa (kupu-kupu). Telur dari larva ini mempunyai warna hijau kekuningan, berbentuk kecil bulat atau oval, ukuran 0,6 x 0,3 mm, dan diletakkan secara tunggal atau berkelompok di bawah permukaan daun kubis. Telur akan menetas menjadi larva (ulat) berwarna hijau dengan ukuran panjang badan 8-10 mm, lebar 1-1,5 mm, terdiri dari 4 instar, lincah dan bila tersentuh akan menjatuhkan diri ke tanah. Ngengat (kupu-kupu) berukuran kecil, panjangnya 1,25 cm, berwarna coklat kelabu memiliki 3 buah titik kuning pada sayap depannya dan aktif pada malam hari (Cahyono, 1995).
Menurut Rukmana (1994) cara atau penyebaran P. xylostella melalui sisa-sisa tanaman ataupun hasil tanaman kubis yang mengandung telur atau ngengat. Berpindah-pindahnya ngengat (kupu-kupu) dari satu tanaman ke tanaman lain atau dari satu daerah ke daerah lain dengan bantuan hembusan angin.
C. binotalis adalah nama lain dari ulat kubis krop. Warnanya hijau, pada punggung terdapat garis berwarna hijau muda, pada sisi kanan-kiri warnanya lebih tua, terdapat rambut berwarna hitam. Bagian sisi perut berwarna kuning. Panjang ulat dapat mencapai 18 mm, berkepompong di dalam tanah (Pracaya, 2001)
Serangga ini mengalami metamorfosis sempurna, karena dalam siklus hidupnya mengalami 4 kali perubahan bentuk , yaitu stadium telur – larva- pupa – dan imago. Larva berwarna hijau dan pada bagian punggungnya terdapat garis-garisdengan warna lebih muda, bagian sisi kanan dan kirinya berwarna hijau lebih tua dan terdapat rambut-rambut berwarna hitam. Panjang larva sekirar 18 mm. Menjelang stadium pupa, gerakan larva menjadi lambat. Larva bergerak menuju tanah. Larva bergerak menghasilkan cairan seperti benang sutera yang berwarna putih, dan cairan ini berfungsi untuk menempelkan butiran tanah pada saat menjadi pupa (Kalshoven, 1981).
Gejala serangan ulat ini biasanya ditandai dengan adanya kumpulan kotoran pada daun kubis dan krop menjadi berlubang-lubang yang menyebabkan kualitas hasil panennya menurun. Serangan utama C. binotalis yaitu pada bagian dalam yang terlindungi daun hingga mencapai titik tumbuh. Kalau serangan ini ditambah lagi dengan serangan penyebab penyakit, tanaman bisa mati karena bagian dalamnya menjadi busuk meskipun dari luar kelihatannya masih baik
Menurut Pracaya (2001) pada waktu siang hari bila ada gangguan imago akan terbang untuk mencari perlindungan. Kupu-kupu bertelur dalam satu kelompok dengan ukuran 2,5 x 3 – 4 x 5 mm. Kupu-kupu betina umurnya dapat mencapai 16 – 24 hari dan menghasilkan 11 – 18 butir telur. Setiap kelompoknya terdiri dari 30 – 80 butir telur.

C. Insektisida Hayati

Selama ini penggunaan pestisida di lingkungan pertanian menjadi masalah yang sangat dilematis. Disatu pihak dengan digunakannya pestisida sintetik maka kehilangan hasil yang diakibatkan organisme pengganggu tanaman dapat ditekan, tetapi akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan (Kardiman, 2002). Penggunaan pestisida yang terus menerus dapat menimbulkan resistensi hama terhadap pestisida itu sendiri, karena hama terus menerus mendapat tekanan oleh pestisida maka melalui proses seleksi alami, spesies hama mampu membentuk strain yang lebih tahan terhadap pestisida tersebut.
Sebagai jalan keluar permasalahan diatas maka digunakan perstisida hayati yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Oleh karena terbuat dari bahan alami, maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak karena residunya mudah hilang. Apabila diaplikasikan dapat membunuh hama pada waktu itu dan residunya akan cepat hilang di alam setelah hama terbunuh (Kardiman, 2002).
Menurut Sastroutomo (1992) insektisida hayati merupakan senyawa beracun yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Bunga, daun, biji, atau akar dihancurkan dan kemudian langsung digunakan sehingga bahan beracunnya dapat digunakan. Insektisida hayati relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas, dan bahan bakunya mudah di dapat. Oleh karena terbuat dari bahan alami maka insektisida ini bersifat mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak.
Penggunaan antifeedant dari tumbuhan sekarang banyak digunakan di Indonesia. Mimba (Azadirachta indica) dan Lada (Piper nigrum) merupakan tumbuhan yang dapat digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman yaitu sebagai antifeedant (pestisida alami)
Tanaman mimba merupakan tanaman yang tumbuh tahunan (perennial) dan selalu hijau sepanjang tahun. Batang lurus dan berkayu keras, mempunyai banyak cabang, berbentuk bulat, berkulit tebal dan agak kasar dengan ketinggian 10-20 meter dan lingkar batang mencapai 100 cm (Sukrasno, 2003)
Buah mimba berbentuk lonjong, dengan ukuran maksimal 2 cm. Buah yang matang berwarna kuning atau hijau kekuningan. Biji bulat berwarna putih dengan diameter sekitar 1 cm (Kardiman, 2002). Di dalam biji mimba banyak terkandung minyak dan bahan aktif pestisida sehingga banyak dimanfaatkan untuk pengendalian hama.
Salah satu komponen kimia yang terkandung dalam biji mimba yaitu zat azadirachtin. Senyawa ini merupakan racun dan mempunyai daya bunuh terhadap serangga hama tanaman. Senyawa lain yang berfungsi sebagai bahan bioaktif pestisida adalah mimbin, thionemon, meliantriol dan salanin yang merupakan senyawa kimia dari kelompok terpena. Ekstrak bioaktif tetranotiterpinoid azadirachtin efektif terhadap lebih dari 200 spesies serangga hama. Ekstrak biji mimba sebagai insektisida hayati mempunyai daya kerja yang efektif, ekonomis dan aman. Mimba bersifat repellent yaitu menolak kehadiran serangga terutama karena baunya yang menyengat (Sukrasno, 2003)
Kandungan azadirachtin dapat mengganggu proses pergantian kulit (molting) serangga, dengan mengacaukan kerja hormon serangga dan nafsu makan serangga. Kardsiman dan Ruhnayat (2002) mengatakan bahwa cara kerja mimba dalam mengendalikan organisme pengganggu tanaman khususnya hama serangga dengan cara mengganggu dalam proses fisiologi atau pertumbuhan serangga yaitu proses penetasan telur (ovicidal) dan proses metamorfopsis sehingga pupa gagal terbentuk. Mimba dapat juga bekerja sebagai chemosterilant yaitu mengakibatkan kemandulan pada organisme sasaran sehingga walaupun serangga kawin tetapi tidak akan menghasilkan keturunan.
Setiap 10 kg biji mimba dapat menghasilkan insektisida hayati mimba dengan konsentrasi 30-50 g azadirachtin/ha atau setiap gram biji mimba dapat menghasilkan 1-7 mg azadirachtin. Dalam 500 gram biji mimba yang dilarutkan atau diencerkan dengan air hingga 10 liter, kandungan azadirachtinnya mencapai 100 ppm. Pengenceran hingga 20 liter menyebabkan kandungan azadiractinnya hanya 50 ppm (Sukrasno, 2003). Dosis yang dianjurkan yaitu 50 kg biji mimba yang dilarutkan dalam 400 lityer air (Rukmana dan Oesman, 2002). Kardiman dan Ruhnayat (2002) menyatakan bahwa dosis pemakaian yang terlalu banyak dapat menimbulkan fitotoksik (daun tanaman terlihat seperti terbakar).
Tanaman lada merupakan tanaman herba tahunan yang tumbuh memanjat. Bagian tumbuhan lada yang biasa dipergunakan sebahai insektisida hayati adalah bijinya. Biji lada dapat berfungsi sebagai insektisida, fungisida dan nematisida. Penggunaanya dengan cara menumbuk atau menghancurkannya sehingga menjadi bubuk tepung (Kardiman, 2000).
Kandungan bahan aktif biji lada antara lain alkaloid, methylpyrrolie, piperovatine, chavincine, piperidine dan piperine yang dapat bekerja sebagai racun kontak dan racun perut. Hasil penelitian menunjukkan pada konsentrasi 0,25%-0,5% bubuk lada dapat menanggulangi serangga hama gudang, sedangkan konsentrat lada mampu meningkatkan daya racun piretrin yang berasal dari bunga piretrum (Kardiman, 2000). Lebih lanjut dari penelitian Djoni (1997) membuktikan bahwa biji lada konsentrasi 2% dan interval waktu 3 hari dapat mengurangi serangan C. binotalis sebesar 33%.
Biji lada berfungsi sebagai insektisida hayati karena memiliki sifat sebagai racun kontak pada hama ulat daun kobis. Ekstrak kasar dan setengah pemurnian dari biji lada toksik karena bersifat meracuni terhadap serangga hama khususnya C. binotalis. Menurut Tarumingkeng (1992) larva hama ulat daun kubis yang teracuni ekstrak biji lada menunjukkan gejala kekejangan, kelumpuhan dan kematian. Daya meracuni dari biji lada biasanya ditentukan oleh bahan aktif yang terkandung yang kemudian diekstraksi dengan etanol menjadi racun kontak pada ulat.
Senyawa-senyawa yang terkandung dalam biji lada tergolong mudahterurai jika terkena cahaya sehingga penggunaannya tidak meninggalkan residu dan aman bagi lingkungan, manusia dan hewan (Sastroutomo, 1992). Menurut Tarumingkeng (1992) kemampuan meracuni dari bahan aktif ekstrak biji lada mampu bertahan selama 3-4 hari di lapang tergantung keadaan cuaca.

III. METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 8 Juli sampai 16 Oktober 2007 di desa Matesih, kecamatan Matesih, Kabupaten karanganyar dengan ketinggian tempat 500 meter diatas permukaan laut.
Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan 7 macam perlakuan dan 3 kali ulangan. Adapun perlakuannya adalah :
A : Tanpa penyemprotan insektisida hayati (Kontrol)
B : Penyemprotan ekstrak biji mimba 1 %
C : Penyemprotan ekstrak biji mimba 2%
D :Penyemprotan ekstrak biji mimba 3 %
E : Penyemprotan ekstrak biji lada 1 %
F : Penyemprotan ekstrak biji lada 2%
G : Penyemprotan ekstrak biji lada 3 %
Petak penelitian dibuat dengan membuat blok-blok yang tegak lurus dengan arah kesuburan tanah sebanyak 3 blok, dengan jarak antar blok 75 cm. Setiap blok dibagi menjadi 7 petak, jarak antar petak 50 cm dan ukuran petak 200 cm x 200 cm.
Bersamaan dengan kegiatan pembibitan di persemaian, lahan untuk penanaman kubis diolah. Pengolahan lahan dimulai dengan penyiangan gulma. Tanah dicangkul sedalam 30-40 cm hingga menjadi gembur. Pada lahan yang telah dicangkul dibuat lubang tanam dengan jarak tanam 50×50 cm. Tiap lubang tanam, diisi pupuk kandang yang telah matang sebanyak 0,5 kg. Pengolahan tanah dilakukan 1 bulan sebelum tanam agar sempurna untuk mendukung tanaman kubis.
Bibit yang telah berumur 21 hari di persemaian dipilih yang pertumbuhannya normal dan sehat. Lalu di tanam pada lubang tanam sampai leher akarnya ditekan tanahnya dari samping hingga bibit tumbuh tegak. Setelah bibit ditanam, disiram air hingga cukup basah. Selanjutnya dilakukan pemeliharaan tanaman yang meliputi pengairan dan penyulaman.
Pemupukan pertama dilakukan 3 hari setelah pindah tanam kemudian diulang pada umur 3 minggu dan 6 minggu setelah tanam masing-masing sebanyak 50 g pupuk organik per lubang tanam. Sebelum melakukan pertama , alur dibuat secara melingkar disekeliling lubang tanaman, setelah dipupuk, lalu ditutupi tanah. Pada saat pemupukan kedua disekitar tanaman pada bayangan terluar dari tajuk tanaman.
Mempersiapkan insektisida hayati. Biji mimba dan biji lada terlebih dahulu dihaluskan sampai menjadi serbuk lalu dihitung kadar air serbuk biji untuk mengetahui berat segar setara dengan 50 g berat keringnya. Rumus yang digunakan untuk mengetahui berat segar setara50 g berat kering , dari masing-masing serbuk biji adalah
Bs = (100/100-x) x 50 g
Bs adalah berat segar sedangkan x adalah kadar air tanaman
Setelah menimbang serbuk biji masing-masing sejumlah 50 g setara dengan berat kering, Serbuk biji tersebut dibungkus dengan kain munil. Masing-msing serbuk biji dimasukkan ke dalam tabung erlemeyer yang telah berisi 100 ml pelarut etanol 96 % dan diaduk selama 3 jam. Setelah diaduk ekstrak diangin-anginkan agar pelarutnya menguap sampai filtrat yang tersisa sebanyak 20 ml. Untuk penyemprotan di lahan ekstrak ini terlebih dahulu dicampur dengan air, sesuai dengan perlakuan konsentrasi.
Ekstrak biji tersebut diberikan sebagai insektisida hayati pada tanaman pada sore hari dengan cara disemprotkan secara merata pada permukaan daun, dengan interval penyemprotan 1 minggu sekali, dimulai saat tanaman berumur 2 minggu dan berakhir umur 10 minggu setelah tanam.
Pemanenan kubis dilakukan setelah kropnya berkembang penuh membentuk gumpalan padat atau kelompok, dan bila dijentik dengan jari tangan berbunyi nyaring.
Pengamatan diulakukan pada tanaman sampel yang telah ditentukan sebanyak 4 tanaman. Parameter yang diamati meliputi :
A. Pengamatan Hama P. xylostella dan C. binotalis
Dilakukan dengan cara menghitung persentase kematian larvanya, dengan rumus :
Pm
Po = ———- x 100 %
Ps
Dimana : Po adalah kematian teramati
Pm adalah jumlah larva yang mati setelah aplikasi
Ps adalah jumlah larva sebelum aplikasi
Pengamatan dilakukan 2 hari setelah penyemprotan insektisida hayati.
Perhitungan pengamatan dilakukan pada minggu ke 7, 8, 9 dan 10

B. Tingkat kerusakan oleh serangan hama P. xylostella dan C. binotalis
Kerusakan daun akibatserangan ulat ditandai dengan adanya kerusakan berupa lubang-lubang pada permukaan daun dan kerusakan p-ada krop atau titik tumbuh tanaman. Cara menghitungnya dengan menggunakan rumus :
( n x v)
I = ————– x 100 %
N x V
Dimana I adalah intensitas serangan hama
n adalah jumlah tanaman yang terserang
v adalah nilai skore pada setiap kategori serangan
N adalah nilai skore serangan tertinggi
V adalah jumlah tanaman yang diamati
Nilai skorenya adalah : 0 jika tidak ada tanaman yang terserang
1 jika 1-25% tanaman terserang
2 jika 26-50% tanaman terserang
3 jika 51-75% tanaman terserang
4 jika lebih dari 76% tanaman terserang
Pengamatan tingkat kerusakan tanaman dilakukan pada minggu ke 7, 8, 9 dan
10.

Pengamatan Agronomi, meliputi :
Berat segar tanaman
Berat segar Krop
Diameter Krop
Indeks Panen
Data yang didapat dianalisis ragam dan diteruskan dengan Uji jarak Duncans bil;a menunjukkan ada beda nyata.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis statistik terhadap tingkat kematian larva P. xylostella dan tingkat kerusakan tanaman akibat hama tersebut menunjukkan hasil sangat berbeda nyata.

Tabel 1. Purata Pengamatan tingkat kematian larva P.xylostella dan tingkat kerusakan
tanaman akibat serangan hama tersebut.

Perlakuan Purata pengamatan hari ke 7 Purata Pengamatan hari ke 8
Kematian larva Tingkat kersakn Kematian larva Tingkat kersakn
A
B
C
D
E
F
G 0 a
9.757 b
15.257 cd
15.25 cd
10.723 b
13.423 c
13.620 c 21.08 a
17.43 b
15.273 bc
13.637 c
16.74 b
13.137 c
12.733 cd 0 a
9.763 b
17.923 d
13.907 c
10.373 b
11.407 b
11.593 b 23.350 a
15.103 c
10.597 e
11.830 e
19.567 b
15.103 c
13.637 d

Keterangan :Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada Uji Duncans 5 %.

Tabel diatas menunjukkan bahwa pemberian ekstrak biji mimba 2% tingkat kematian larvanya paling tinggi baik pada pengamatan minggu ke 7 maupun minggu ke 8. Hal ini diduga karena zat aktif yang terkandung dalam ekstrak biji mimba tersebut seperti Azadiraktin, Nimbin, Meliantriol sudah terlepas dan larut dalam air pada konsentrasi tersebut. Dan ini merupakan konsentrasi yang paling sesuai untuk menekan populasi hama dibandingkan dengan perlakuan lainnya, sehingga dapat dikatakan ekstrak biji mimba dengan konsentrasi 2% mempunyai toksisitas yang paling besar.
Jika membandingkan antara pengamatan minggu ke 7 dengan minggu ke 8 dari pemberian ekstrak biji mimba 2%, purata kematian larvanya mengalami peningkatan. Hal ini membuktikan bahwa ekstrak ini mempunyai efektivitas yang tinggi karena perseentase kematian larvanya meningkat, sehingga menunjukkan bahwa ekstrak tersebu tmempunyai kemanjuran dalam mengendalikan populasi P. xylostella.Larva yang teracuni oleh biji lada menunjukkan gejala kejang, kegagalan pada sistim saraf dan kematian, kematian larva ditandai dengan tubuh yang berubah warna hijau muda kekuningan menjadi hitam seperti terbakar
Tingkat kerusakan tanaman terbesar terjadi pada kontrol yaitu 21,080 pada minggu ke 7 dan 23,350 pada minggu ke 8. Sedangkan tingkat kerusakan terendah terjadi pada pemberian ekstrak biji lada 3% yaitu sebesar 12,733 pada minggu ke 7, dan pemberian ekstrak biji mimba 2% yaitu sebesar 10,597 pada minggu ke 8. Hal ini disebabkan sifat dari ekstrak biji mimba sebagai insektisida hayati bersifat sebagai insektisida sistemik, sehingga larva yang menyerang tanaman kobis semakin lama tingkat aktivitasnya makin berkurang.
Menurut Subiyakto (2004) Azadiraktin yang terkandung dalam biji mimba menyebabkan efek fisiologis pada serangga yaitu mempengaruhi sintesis ekdisteroid. Sasaran Azadiraktin tidak pada gladula protorak (tempat sintesis ekdison) tetapi pada sel neuro sekretori otak. Sel neuro sekretori berfungsi mengaktifkan fungsi kelenjar protorak yang menstimulasi sintesa protein, mencegah kehilangan air, meningkatkan atau mengurangi aktivitasdan pengaturan khususnya dalam metamorfosa, ekdisis dan diapouse. Karena sel neuro sekretori tidak berfungsi sempurna maka semua aktivitas terganggu. Gangguan yang berat akan mengakibatkan mortalitas ulat, sedangkan gangguan yang ringan menyebabkan pertumbuhan ulat menjadfi terhambat.Sedangkan ekstrak biji lada lebih bersifat racun kontak dan racun perut , karena biji lada mengandung bahan aktif yaitu piperine, alkaloid, piperidine dan derivatnya.

Hasil analisis statistik terhadap tingkat kematian larva C. binotalis dan tingkat kerusakan tanaman akibat hama tersebut menunjukkan hasil sangat berbeda nyata.

Tabel 2. Purata Pengamatan tingkat kematian larva C. binotalis dan tingkat kerusakan
tanaman akibat serangan hama tersebut.

Perlakuan Purata pengamatan hari ke 9 Purata Pengamatan hari ke 10
Kematian larva Tingkat kersakn Kematian larva Tingkat kersakn
A
B
C
D
E
F
G 0 a
16.283 b
32.34 d
40.33 e
25.177 c
33.777 d
35.957 d 29.007 a
25.623 b
24.120 bc
16.74 e
24.753 bc
21.08 c
19.337 cd 0 a
27.657 b
31.083 c
31.307 c
25.437 b
28.94 b
30.29 c 28.95 a
25.57 b
20.897 c
21.607 c
25.12 b
20.39 c
17.387 d

Keterangan :Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada Uji Duncans 5 %.

Tabel diatas menunjukkan bahwa pemberian ekstrak biji mimba 2% tingkat kematian larvanya paling tinggi baik pada pengamatan mingguke 9 maupun minggu ke 10 yaitu sebesar 40,330 dan 31,083. Hal ini seperti pada perlakuan untuk mengendalikan P. xylostella. Berarti ekstrsk biji mimba 2% memang dapat untuk mengendalikan larva, baik untuk P.xylostella maupun untuk C. binotalis.
Untuk tingkat kerusakan krop pada kobis, ternyata pemberian ekstrak biji mimba 2% tidak memberikan hasil yang optimal pada pengamatan minggu ke 9, karena tingkat kerusakan krop terendah terdapat pada pemberian ekstrak biji mimba 3%. Berarti untuk mengurangi tingkat kerusakan krop diperlukan konsentrasi yang lebih tinggi. Ini disebabkan larva yang berada pada krop dapat bersembunyi pada bagian dalam. Hal ini berbeda pada tingkat kerusakan pada daun yang dapat langsung terkena oleh semprotan ekstrak biji mimba.
Pada pengamatan tingkat kerusakan krop minggu ke 10 ternyata tingkat kerusakan terendah terdapat pada perlakuan pemberian ekstrak biji lada 3%. Hal ini disebabkan pemberian ekstrak biji lada dengan konsentrasi yang tinggi diperlukan untuk mengendalikan larva yang ada di dalam krop, karena larva akan mudah masuk di sela-sela helaian krop. Pada saat ekstrak biji lada dengan konsentrasi yang tinggi tersebut masuk dalam krop, seolah ekstrak tersebut terjerembab di dalam krop. Padahal ekstrak biji lada tersebut menimbulkan rasa pedas dan panas . Hali inilah yang menyebabkan larva C. binotalis tidak menyukai suasana yang demikian, sehingga tingkat serangannya menjadi rendah.

Hasil analisis statistik terhadap parameter Agronomi menunjukkan bahwa ekstrak insektisida hayati tidak berbeda nyata pada purata berat segar tanaman dan indeks panen tetapi memberikan hasil yang berbeda nyata pada purata berat segar krop dan diameter krop.

Tabel 3. Purata Pengamatan Agronomi

Perlakuan Purataberat segar tanaman (kg) Purata Berat segar krop (kg) PurataDiameter krop (cm) Prt Indeks
panen
A
B
C
D
E
F
G 0.899 a
0.764 a
1.104 a
1.22 a
1.162 a
1.26 a
1.301 a 0.458 a
0.44 a
0.55 b
0.633 c
0.621 c
0.7 d
0.717 d 8.947 a
11.247 bc
12.49 c
12.11 c
11.26 bc
11.09 b
10.447 b 0.508 a
0.402 a
0.501 a
0.519 a
0.529 a
0.554 a
0.551 a

Keterangan :Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada Uji Duncans 5 %.

Hasil pengamatan terhadap parameter Agronomi menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada berat segar tanaman dan indeks panen. Menurut Haryadi (1986) berat segar tanaman merupakan bertambahnya ukuran atau berat tanaman karena adanya perubahan struktural yang baru, pertumbuhan akar, batang dan daun. Hal ini juga berhubungan dengan pembelahan sel serta pembentukan jaringan meristem yang disebabkan oleh proses fotosintesis dan hasil penyerapan unsur hara dari dalam tanah yang seimbang.
Dengan adanya perlakuan yang sama dalam pemupukan memberikan pengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman sehingga proses fotosintesis berjalan dengan baik karena unsur hara dapat diserap dengan baik oleh tanaman. Dengan tersedianya unsur hara dalam keadaan seimbang, maka akan meningkatkan pertumbuhan tanaman.
Tinggi rendahnya berat segar tanaman juga dipengaruhi oleh ada tidaknya serangan hama. Adanya pengendalian insektisida hayati memberikan pengaruh beda tidak nyata terhadap berat segar tanaman. Hal ini dikarenakan sebelum dan sesudah adanya serangan, usaha pengendalian dilakukan sehingga larva tidak sampai menghabiskan daun dan tidak menyerang titik tumbuh. Semakin tinggi konsentrasi insektisida hayati, semakin besar larva yang dapat dikendalikan dan berpengaruh terhadap berat segar tanaman.
Menurut Suwandi (1991) indeks panen merupakan nilai yang menunjukkan sampai seberapa besar hasil asimilasi dari daun yang ditranslokasikan ke seluruh jaringan tanaman dan merupakan hasil panen biologis yang ditunjukkan dalam bentuk hasil panen ekonomis. Rendahnya nilai indeks panen diduga penyebabnya karena serangan oleh hama lebih besar pada titik tumbuh yang menyebabkan krop menjadi rusak.Sedangkan pada tanaman kubis, krop merupakan bagian tanaman yang memiliki nilai ekonomis, maka berat dan rendahnya krop yang dapat dipanen mempengaruhi tinggi rendahnya nilai indeks panen.
Hasil pengamatan pada parameter berat segar krop dan diameter krop menunjukkan hasil yang berbeda nyata. Berat segar krop per tanaman adalah berat semua bagian daun dan batang tanaman kobis yang tumbuh dan membentuk krop. Berat segar krop berhubungan dengan besar dan padatnya krop per tanaman. Krop merupakan tempat penimbunan fitosintat sebagai hasil proses fotosintesis. Besarnya fotosintat yang terkandung akan menyebabkan krop semakin padat dan besar sehingga akan berpengaruh pada berat segar krop.
Penyemprotan insektisida hayati juga berpengaruh terhadap berat segar krop, karena serangan larva apabila tidak dikendalikan akan merusak tanaman. Pada daun tanaman yang terserang hama, laju fotosintesis akan terhambat sehingga akan berakibat pada pertumbuhan dan perkembangan krop.
Purata berat segar krop tertinggi terdapat pada pemberian ekstrak biji lada 3% yaitu sebesar 0,717 kg. Hal ini sesuai dengan hasil pada tingkat kerusakan krop pada minggu ke 10 dimana tingkat kerusakannya terendah. Menurut Rukmana (2001) ulat memakan daun muda kubis hingga ke titik tumbuh, sehingga krop yang terserang bila dilihat dari luar kelihatan bagus, tetapi bila krop dibuka daun luarnya akan terlihat bekas gejala serangannya, yaitu krop berlubang-lubang dan terdapat kelompok-kelompok kotoran yang melekat pada daun muda kobis.
Pengaruh langsung penggunaan insektisida hayati adalah bersifat racun untuk mempertahankan keadaan organisme pengganggu agar tidak mengakibatkan kerugian yang berarti dengan cara mencegah penyebaran, pengendalian dan mempertahankan serangannya pada tingkat yang rendah atau tidak terjadi kerusakan (Sutarya dkk,1995).

V. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan :
1. Insektisida Hayati dari ekstrak biji mimba dan ekstrak biji lada berpengaruh sangat nyata terhadap tingkat kematian larva P. xylostella dan C. binotalis, tingkat kerusakan pada tanaman, dan berpengaruh nyata terhadap berat segar krop, diameter krop
2. Pemberian ekstrak biji mimba 2% memberikan hasil terbaik pada tingkat kematian larva P. xylostella dan C. binotalis, tingkat kerusakan tanaman umur 8 minggu, diameter krop
3. Pemberian ekstrak biji lada 3% memberikan hasil terendah pada tingkat kerusakan tanaman pada krop, dan memberikan hasil tertinggi pada berat segar krop
.
Saran :
Masih perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mencari ekstrak dari bahan hayati, mengingat hasil penelitian kami menunjukkan adanya spesifikasi tertentu terhadap penggunaanya.

DAFTAR PUSTAKA
Cahyono, B. 1995. Cara Meningkatkan Budidaya Kubis. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara.

Kalshoven, I.G.E. 1981. The Pest Of Crops in Indonesia. Jakarta: PT. Ichtiar Baru-Van Hoeve.

Kardiman, A. 2002. Pestisida Nabati, Ramuan dan Aplikasi. Jakarta: Penebar Swadaya.
88 hal.

Kardiman, Adan Ruhnayat, A. 2002. Mimba, Budidaya dan Pemanfaatan. Jakarta: Agromedia Pustaka. 47 hal.

Lingga, P. 2003. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Jakarta: Penebar Swadaya.

Musnawar, El. 2002. Pupuk Organik : Cair dan Padat, Pembuatan, Aplikasi. Jakarta: Penebar Swadaya. 72 hal.

Pracaya. 1997. Hama dan Penyakit Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya.

———. 2001. Kol AliasKubis. Jakarta: Penebar Swadaya. Edisi Revisi. 70 hal.

Rukmana. 2001 Bertanam kubis. Yogyakarta: Kanisius 68 hal.

Rukmana dan Oesman. 2002. Mimba Tanaman Penghasil Pestisida Alami. Yogyakarta: Kanisius. 93 hal.

Sastroutomo, S.S. 1992. Pestisida. Dasar-dasar dan Dampak Penggunaannya. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 185 hal.

Subiyakto. 2004. Pemanfaatan Serbuk Biji Mimba. http:// Perkebunan. Litbang. Deptan. Go.id/ mkl. 12 hal

Sunarjono, H. 1980. Budidaya Kubis. Jakarta: Sinar Baru. 44 hal.

Sukrasno. 2003. Mimba Tanaman Obat Multifungsi. Jakarta: Agromedia Pustaka. 81 hal.

Sutarya, R.G, Gruben dan H. Sutarno. 1995. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tarumingkeng. 1992. Insektisida. Bogor:Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Lampiran : Deskripsi Kubis varietas K-K Cross

1. Nama Varietas : K-K Cross

2. Asal Tanaman : Jepang

3. Perusahaan Benih : Takii Seed Kyoto Japan

4. Umur Tanaman : 58-60 hari setelah tanam

5. Berat Krop : 0,5-1,8 Kg

6. Bentuk Krop : Bulat atau hampir bulat

7. Warna Krop : Putih atau putih kehijauan

8. Warna Daun : Hijau tua

9. Ketinggian Tempat : 100-800 m dpl

10. Ketahanan terhadap penyakit : Tahan terhadap Penyakit Busuk Hitam

11. Ketahanan cuaca : Tahan terhadap cuaca panas

Lampiran :

Purata Tingkat kerusakan pada daun akibat serangan Plutella xylostella

Minggu ke 7 Minggu ke 8
Perlakuan
____________________
A
B
C
D
E
F
G
I II III
______________________
12,50 10,42 10,42
8,33 10,42 8,33
6,25 6,25 8,33
6,25 6,25 4,17
8,33 8,33 8,33
8,33 2,08 6,25
4,17 4,17 6,25 I II IIII
_______________________
12,50 10,42 12,50
8,33 4,17 8,33
4,17 2,08 4,17
4,17 4,17 4,17
6,25 10,42 12,50
4,17 8,33 8,33
6,25 6,25 4,17

Transfer Arcsin Purata tingkat kerusakan pada daun akibat serangan Plutella xylostella

Minggu ke 7 Minggu ke 8
Perlakuan
____________________
A
B
C
D
E
F
G
I II III
______________________
25,62 18,81 18,81
16,74 18,81 16,74
14,54 14,54 16,74
14,54 14,54 11,83
16,74 16,74 16,74
16,74 8,13 14,54
11,83 11,83 14,54 I II III
______________________
25,62 18,81 25,62
16,74 11,83 16,74
11,83 8,13 11,83
11,83 11,83 11,83
14,54 18,81 15,62
11,83 16,74 16,74
14,54 1,.54 11,83

Lampiran :

Purata Tingkat kerusakan pada krop akibat serangan Crocidolomia binotalis

Minggu ke 9 Minggu ke 10
Perlakuan
______________________
A
B
C
D
E
F
G
I II III
_______________________
27,08 20,83 22,92
16,67 18,75 20,83
16,67 16,67 16,67
8,33 8,33 8,33
20,83 16,67 14,58
10,42 12,50 10,58
14,58 8,33 10,58 I II III
_______________________
29,17 28,92 19,75
20,83 20,83 14,58
10,42 20,83 8,33
8,33 14,58 12,50
16,67 12,50 12,50
8,33 12,50 10,42
10,42 10,42 6,25

Transfer Arcsin Purata tingkat kerusakan pada krop akibat serangan Crocidolomia binotalis

Minggu ke 9 Minggu ke 10
Perlakuan
____________________
A
B
C
D
E
F
G
I II III
________________________
31,37 27,13 28,52
24,12 25,62 17,13
24,12 24,12 24,12
16,74 16,74 16,74
27,13 24,67 22,46
18,61 25,62 18,81
22,46 16,74 18,8l I II III
________________________
32,71 28,62 25,62
27,13 27,13 22,46
18,81 27,13 16,75
16,74 22.46 25,62
24,12 25,62 25,62
16,74 25,62 18,81
18,81 18,81 14,54

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s